Amal, Istri Osama yang Diperebutkan Itu


AMERIKA Serikat (AS) dan Pakistan berebut hak untuk menahan Amal al-Sadah, istri termuda Osama bin Laden. Amal kini ditahan Pakistan dan negara itu, Rabu (4/5/2011), menolak permintaan Amerika untuk berbicara dengan Amal.
Perempuan berusia 27 tahun itu, berdasarkan laporan awal AS tentang serbuan ke kompleks tempat tinggal Osama di Pakistan, Minggu, telah berupaya menjadi tameng bagi suaminya dari sergapan pasukan khusus Navy SEALs. Namun, keterangan pihak AS kemudian menyebutkan, ia telah dijadikan tameng oleh Osama dan tewas. Laporan itu pun dikoreksi lagi dengan menyatakan bahwa Amal tidak tewas, hanya terluka di kaki. Amal seharusnya ikut terangkut helikopter pasukan AS, tetapi karena satu dari dua helikopter pasukan itu jatuh saat mendarat, Amal pun ditinggalkan. Ia kemudian ditangkap pasukan Pakistan.
Siapakah Amal al-Sadah? Kisah tentang dia bermula 11 tahun lalu. Ketika itu, ia adalah gadis remaja yang dibawa dari sebuah kota yang tenang di Yaman selatan, pertama ke Pakistan, lalu ke Kandahar di Afganistan selatan. Setahun sebelum serangan 11 September 2001, ia menjadi istri kelima Osama bin Laden. Saat itu, Amal berusia 18 tahun dan Osama 43 tahun.
Perkawinan itu diatur seorang tokoh Al Qaeda Yaman, Sheikh Mohammed Saeed Rashed Ismail. Ismail (saudaranya mendekam di tahanan Teluk Guantanamo) mengatakan kepada Yemen Post tahun 2008, “Saya adalah mak comblang (perkawinan) Osama dengan istrinya, Amal al-Sadah, yang merupakan salah seorang murid saya.”
Bulan Juli 2000, Ismail mendampingi pasangan pengantin baru itu ke Afganistan. Tahun lalu, Ismail mengatakan kepada wartawan Hala Jaber, “Bahkan pada usia muda, dia (Amal) sangat religius dan percaya pada hal-hal yang Osama—seorang pria yang sangat religius dan saleh—yakini.”
Perkawinan itu juga rupanya sebuah aliansi politik—demi memperkuat dukungan bagi Osama di tanah leluhurnya, Yaman. Pengawal Osama pada waktu itu, Abu Jandal, bertanggung jawab untuk mengantarkan mahar. “Sheikh (Osama) itu memberi saya 5.000 dollar AS dan menyuruh saya untuk mengirimkannya kepada orang tertentu di Yaman dan orang itu pada gilirannya membawa uang itu kepada keluarga pengantin perempuan,” kata Abu Jandal pada harian Al Quds al Arabi tahun 2005.

Sesuai dengan tradisi Sunni konservatif, perayaan pernikahan itu semua menjadi urusan laki-laki. “Pengantin wanita dianggap telah menyetujui pernikahan itu dengan perjalanan ke Afganistan, jadi kehadirannya (dalam pernikahan) tidak diwajibkan,” tulis Jaba di The Sunday Times setelah mewawancarai Ismail.
“Orang-orang merayakan dengan meresital puisi dan lagu, menyembelih anak-anak domba, dan menyantap makanan.” Menurut Abu Jandal, “lagu-lagu dan kegembiraan bercampur dengan (suara) tembak-tembakan ke udara”.
Setahun setelah pernikahan itu, Amal al-Sadah melahirkan seorang anak perempuan di Kandahar (beberapa hari setelah serangan 11 September 2001). Anak itu diberi nama Safiyah. Anak itulah yang mungkin, menurut para pejabat Pakistan, telah melihat ayahnya ditembak mati pada Minggu lalu. Ibunya, menurut sumber-sumber Pakistan, kini telah pulih dari luka di kaki yang dideritanya dalam serangan tersebut.
Paspor seorang perempuan Yaman yang ditemukan di kompleks persembunyian mereka tampaknya milik Amal, tetapi nama dalam paspor itu tidak sama persis dengan namanya. Para pejabat Yaman mengatakan, mereka tidak dapat mengidentifikasi secara pasti paspor itu dan Pakistan belum membuat permintaan untuk memulangkan siapa pun di kompleks bekas tempat tinggal Osama tersebut.
Tidak jelas apakah Osama dan Amal memiliki anak lainnya. Namun, pemimpin Al Qaeda itu memiliki lebih dari 20 anak dari lima istri. Salah satu putranya juga dilaporkan tewas dalam serangan di kompleks Abbottabad di Pakistan itu.
Analis terorisme CNN, Peter Bergen, telah menulis tentang pernikahan Osama dalam bukunya, The Osama bin Laden I Know: An Oral History of al Qaeda’s Leader. Osama pertama kali menikah pada usia 17 tahun dengan seseorang yang masih sepupunya, Najwa Ghanem, yang mungkin dua tahun lebih muda dari Osama. Mereka punya 11 anak, tapi setelah menjalani hidup bersama yang terus-menerus berpindah, Najwa akhirnya meninggalkan Osama (dan Afganistan) beberapa hari sebelum serangan 11 September.
Istri kedua Osama adalah Khadijah Sharif, sembilan tahun lebih tua dari Osama, seorang perempuan berpendidikan tinggi dan keturunan langsung Nabi Mohammad. Mereka menikah tahun 1983 dan punya tiga anak—tapi akhirnya mereka bercerai ketika tinggal di Sudan pada tahun 1990-an. Dalam wawancaranya dengan Al Quds al Arabi, Abu Jandal mengatakan, Khadijah tidak mampu menghadapi kehidupan mereka yang keras dan akhirnya kembali ke Arab Saudi.
Istri pertama Osama, Najwa, membantu untuk mengatur perkawinan Osama yang ketiga dengan Khairiah Sabar. Khairiah juga perempuan berpendidikan tinggi dan bergelar doktor dalam syariah atau hukum Islam. Perempuan itu menikahi Osama tahun 1985 dan mereka punya satu anak, seorang putra. Bergen menulis bahwa tidak diketahui apakah perempuan itu selamat dari pengeboman di Afganistan pada Oktober dan November 2001.

Lalu, ada Siham Sabar yang menikahi Osama tahun 1987. Mereka punya empat anak, dan seperti Khairiah, dia tidak ketahuan jejaknya sejak invasi ke Afganistan. Amal al-Sadah adalah istri kelima dan termuda Osama. Amal sempat dipulangkan ke Yaman demi keselamatannya, tapi entah kenapa dia kembali ke tempat Osama.
Menurut Abu Jandal, setelah keluarga besar Osama tiba di Afganistan tahun 1996, mereka kerap naik bus yang dikawal dengan sebuah kendaraan yang penuh penjaga. Ia mengatakan, tiga istri Osama hidup harmonis dalam rumah yang sama. Mereka sering pergi ke acara outing keluarga—Osama dalam sebuah mobil tersendiri diikuti bus keluarga. Pada acara seperti, kata Abu Jandal, pemimpin Al Qaeda itu akan mengajari para istrinya bagaimana menggunakan senjata api.

Pengamat teroris CNN, Paul Cruickshank, mengatakan, tidak mengherankan jika di kompleks di Abbottabad yang diserang pasukan AS pada Minggu lalu terdapat sejumlah anak meskipun tidak diketahui berapa orang yang merupakan anak Osama. “Dia berusaha melatih anak-anaknya untuk mengikuti jejaknya.”
Secara keseluruhan, menurut Abu Jandal, Osama memiliki 11 putra, beberapa di antaranya lari dari kondisi kehidupan yang keras bersama ayah mereka ke kehidupan yang lebih sejahtera bersama keluarga besar Bin Laden yang kaya. “Adapun anak perempuan tidak diketahui pasti jumlahnya,” kata Abu Jandal kepada Al Quds al Arabi.
Beberapa minggu setelah peristiwa 11 September, Osama mengatakan kepada wartawan Pakistan, Hamid Mir, bahwa ia punya rencana untuk putri bungsunya, Safiyah. “Saya menjadi seorang ayah dari seorang gadis setelah 11 September,” katanya. “Saya menamai dia Safiyah, yang membunuh seorang mata-mata Yahudi pada zaman Nabi. (Putri saya) akan membunuh musuh-musuh Islam seperti Safiyah.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s